web hit counter Mekanisme Replikasi DNA (Deoxyribonucleic Acid) - idhealt.com

Mekanisme Replikasi DNA (Deoxyribonucleic Acid)

idhealt.com – Replikasi DNA adalah sebuah proses penggandaan DNA sebagai materi genetik makhluk hidup. Proses ini benar-benar penting didalam tahapan perkembangbiakan atau pembelahan sel (Fase S daur sel). Materi DNA yang udah digandakan lantas akan dibagi ke masing-masing anakan sel yang baru.

Pada artikel ini kami akan membahas bagaimana proses prosedur replikasi ini terjadi.

>> Vidio <<<

Tidak cuman artikel ini, Kamu juga dapat memperhatikan video klarifikasi tentang replikasi DNA di bawah ini:

Daftar Isi

Struktur Dasar dan Pasangan Basa DNA

Kami ketahui bahwa struktur DNA berupa double helix yang tediri berasal dari dua untai rantai polimer DNA yang saling berpasangan secara komplementer. Struktur dasar itu dapat disimak di gambar di bawah ini:

Struktur double helix Dna.
Tampak orientasi antiparalel untuk tiap-tiap helai/strand berasal dari Dna.
Struktur dan pasangan basa komplementer itu penting untuk diperthatikan didalam mempelajari prosedur replikasi Dna.

Adapun untuk susunan komplementer berasal dari basa DNA terdiri berasal dari pasangan satu basa purin dengan satu basa pirimidin.

Basa purin terdiri berasal dari adenine (A) dan guanine (G)
sedangkan pirimidin terdiri berasal dari cysotine (C) dan thymine (T).
Pada Rna, thymine diganti oleh uracyl (U).
Di dalam berpasangan, adenine (A) berpasangan dengan thymine (T) sedangkan guanine (G) berpasangan dengan cytosine (C).
Adapun terbentuknya pasangan itu gara-gara adanya ikatan hidrogen antara kedua model basa.

Ikatan hidrogen ini dapat kami simak di gambar di bawah ini:

Tipe kimia struktur double helix Dna.
(A) Style space-filling berasal dari Dna,dimana tiap-tiap satu putaran terdiri berasal dari 10,4 pasangan basa.
(B) Potongan double helix berasal dari samping tunjukkan posisi keempat basa berasal dari DNA dan bentuk ikatan hidrogen yang menyatukan dua untaian DNA jadi double helix.
Jelas susunan dan pasangan basa DNA ini penting untuk mempelajari bagaimana DNA diduplikasi atau digandakan.

Template dan Penyalinan DNA

Dasar berasal dari penyalinan DNA adalah penyocokan pasangan basa DNA berasal dari template atau DNA orang tua.
Pada termin awal, struktur double helix akan dipisahkan dan masing-masing untaian tunggal akan jadi template atau DNA orang tua. Basa G akan berpasangan dengan basa C yang baru dan basa T hanyalah akan berpasangan dengan basa A yang baru.

Dengan demikian, masing-masing helai DNA akan jadi dasar salinan template untuk dibentuknya helai komplementer DNA yang baru.

Platform template pada proses replikasi Dna. Dengan memasangkan basa nuleotida dengan pasangannya, maka dapat dikerjakan replikasi DNA baru yang sama dengan induknya
Proses pembentukan untaian baru DNA atau polimerisasi DNA dikerjakan oleh enzim yang dinamakan DNA polimerase. Enzim ini ditemukan th 1957.

DNA polimerase menggunakan deoksiribonukleosida trifosfat sebagai substratnya dan sesudah itu menggabungkan atau mempolimerisasi substrat itu jadi untaian DNA baru. Adapun sebagai dasar cetaknya, lumayan membutuhkan satu untaian berasal dari template DNA orang tua.

Reaksi kimia sintesis DNA yang baru. Penambahan deoksiribonukleosida yang baru di ujung 3′ adalah proses mendasar didalam replikasi Dna.

Proses polimerisasi DNA oleh DNA polimerase dimulai berasal dari datangnya deoksinukleosida trifosfat bebas yang disesuaikan dengan pasangan basa berasal dari ujung 3′ DNA template.

Waktu deoksinukleosida trifosfat ini menempel, bentuk DNA polimerase yang layaknya tangan akan berubah, layaknya tangan yang mengeratkan genggamannya ke Dna. Implikasi perubahan ini, enzim mendekatkan ujung gugus OH di posisi 3′ ke gugus firofiosfat pada deoksinukleosida trifosfat. Hal ini mengakibatkan reaksi, dibentuknya ikatan gula fosfat dan sebagai hasil samping keluar gugus firofosfat. Proses ini dapat disimak pada bagan di bawah ini:

Katalisasi pembentukan DNA baru oleh DNA polimerase.
Katalisasi pembentukan DNA baru oleh DNA polimerase. (A) Proses kimiawi didalam polimerisasi DNA baru (B) Perubahan bentuk DNA polimerase mengkatalisasi proses pembentukan DNA baru.adapun yang dimaksud dengan 3′ dan 5′ adalah platform penomoran atau posisi berasal dari atom karbon pada cincin deoksiribosa pada DNA atau ribosa pada Rna. Penomoran ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Penomoran atom karbon pada deoksiribosa dan ribosa.Penomoran atom karbon pada deoksiribosa dan ribosa.
Penomoran atom karbon pada deoksiribosa dan ribosa.

Proses Replikasi Asimetris pada Garpu Replikasi DNA

Proses replikasi DNA membutuhkan penguraian terlebih dahulu bentuk double helix. Akan tapi, proses replikasi DNA tidak harus tunggu struktur double helix ini dibuka menyeluruh. Ketika lebih dari satu berasal dari DNA mulai terbuka, maka proses replikasi ini dapat dimulai.

Apabila kami bayangkan, maka bentuk ini layaknya “Garpu”. Tampak struktur proses replikasi DNA layaknya gambar di bawah ini:

Garpu replikasi

Berasal dari gambar di atas, tampak bahwa kedua helai untaian DNA orang tua jadi template bagi terbentuknya DNA yang baru. Proses di atas dikatakan bahwa replikasi DNA berjalan secara “semikonservatif“.

Cii-ciri semikonservatif replikasi DNA

Di garpu replikasi inilah daerah terjadinya aktivitas primer proses replikasi. Pada kala proses replikasi berjalan, di titik itu tersusun kompleks multiprotein dan multienzim yang terlibat di dalam proses itu.

Apabila kami memperhatikan di gambar sebelumnya, kami ketahui bahwa arah replikasi berlangsung berasal dari 5′ ke 3′ berasal dari template yang berorientasi 3′ ke 5′. Tetapi, kala double helix dibuka, kedua untaian miliki orientasi yang berbeda satu serupa lain (Antiparalel).

Hal ini membawa dampak proses replikasi berbeda untuk tiap-tiap helai DNA dan juga membutuhkan set protein dan enzim yang berbeda pula.
Oleh sebab itu, proses replikasi di garpu replikasi bukanlah proses yang simetris (asimetris).

Leading Strand, Lagging Strand, dan Fragmen Okazaki

Di garpu replikasi, helai DNA dengan orientasi 3′ ke 5′ akan diproses secara konstan. Kala fragmen dibuka sedikit demi sedikit, enzim polimerase akan memproses berasal dari satu basa ke basa pada akhirnya. Helai DNA yang orientasi ini disebut leading strand. Adapun helai DNA dengan orientasi yang antagonis disebut lagging strand.

Adapun pada helai DNA yang antagonis, proses ini tidak bisa dijalankan secara konstan. Bagaimana cara replikasi DNA di template dengan orientasi 5′ ke 3′? Pada tahunan 1960-An, dengan memanfaatkan zat radioaktif 3h-Thymidine peneliti menemukan terdapat potongan-potongan DNA di lagging strand dengan panjang 1000-2000 nukleotida yang dinamakan fragmen Okazaki. Fragmen Okazaki juga disintesis dengan arah 5′ ke 3′ dan sesudah itu disambungkan sesudah potongan-potongan ini disintesis. Untuk lebih sadar, saksikan gambar di bawah ini:

Leading strand, lagging strand, dan fragmen OkazakiLeading strand, lagging strand, dan fragmen Okazaki
Leading strand, lagging strand, dan fragmen Okazaki

Perlunya Sistem Proofreading pada Replikasi DNA

Proses replikasi DNA berjalan nisbi terlalu cepat. Akan tapi, meskipun cepat, tapi punya taraf ketepatan yang baik. Taraf kesalahan pada manusia sekedar satu kesalahan diantara 109 nukleotida yang disalin. Bayangkan seorang sekretaris cuman mempunyai taraf kesalahan satu huruf diantara 1 milyar huruf yang dia ketik. Taraf ketepatan tinggi ini karena adanya platform proofreading di taraf seluler.

Apabila kami memperhatikan, ternyata platform pasangan basa memadai rentan mengalami kesalahan. Jika ada sedikit perubahan geometri double helix, dapat berlangsung dua ikatan hidrogen antara G dan T. Padahal seharusnya G dan T tidak berpasangan (G dengan C dan A dengan T). Tak hanya tersebut, dapat terbentuk bentuk tautomeric yang langka berasal dari keempat basa ini secara saat.

Perubahan tautomeric adalah berpindahnya atom hidrogen di didalam satu molekul supaya pengaruhi pembawaan dan bentuk isomer berasal dari molekul itu. Perubahan tautomeric ini dapat terlalu mungkin C berpasangan dengan A berasal dari apda G. Bentuk tautomeric ini terdapat pada 1 diantara 104 hingga 105 molekul basa. Untuk lebih memahami, dapat disimak di gambar di bawah ini:

Perubahan tautomeric cytosine dan adenine

DNA Polimerase Berperan dalam Proofreading dan Editing DNA

DNA polimerase merupakan lini pertama platform proofreading sementara replikasi berjalan. Tak hanya melaksanakan replikasi, DNA polimerase juga dapat berfaedah mengecek dan mengedit DNA yang salah. Hal ini diketahui berasal dari belajar atau penelitian pada bermacam macam DNA polimerase layaknya pada bakteri dan apalagi virus.

Proofreading oleh DNA polimeraseProofreading oleh DNA polimerase
Proofreading oleh DNA polimerase

Layaknya dijelaskan di atas, terkadang dapat berjalan nukleotida yang salah dimasukan ke didalam strand DNA yang baru. Di dalam kondisi normal, nukleotida yang tepat menyebabkan proses replikasi berlangsung secara lancar. Tetapi pada waktu masuk nukleotida yang salah, proses ini berlangsung lebih jauh lebih lambat. Hal ini terlalu mungkin enzim untuk laksanakan cek kembali apakah nukleotida yang dimasukan telah disesuaikan atau sebelum ditunaikan proses pembentukan ikatan kovalen. Menjadi cara ini berlaku sebelum berlangsung pembentukan ikatan kovalen fosfodiester nukleotida yang baru.

Platform berikutnya adalah exonuclease proofreading. Proses ini terjadi langsung sesudah ikatan kovalen dengan nukleotida yang salah terbentuk. Gara-gara adanya ketidakcocokan, maka ikatan hidrogen tidak terbentuk dengan semestinya. Hal ini sebabkan posisi molekul tidak disesuaikan agar DNA polimerase akan berhenti melaksanakan replikasi.

Proses editing oleh DNA polimeraseProses editing oleh DNA polimerase
Proses editing oleh DNA polimerase

Nukleotida yang salah ini lantas akan dipindahkan ke web site lain didalam enzim DNA polimerase. Sesudah itu, nukleotida yang salah ini akan dibuang dan diganti dengan nukleotida yang seharusnya.

Apabila dibandingkan dengan proses translasi Rna, kesalahan pada proses replikasi 100.000 kali lebih sedikit. Hal ini berkat adanya platform proofreading itu. RNA polimerase tidak mempunyai kemampuan editing layaknya halnya DNA polimerase.

Sintesis RNA Primer Pendek pada Template Laging Strand DNA

Di leading strand, arah replikasi searah dengan pembukaan struktur double helix. Oleh karena tersebut, cuman diperlukan satu kali utama spesifik yaitu pada pas dimulainya replikasi sehingga DNA polimerase bisa mulai bekerja. Hal ini berbeda dengan lagging strand.

Dijelaskan sebelumnya bahwa pada lagging strand, arah replikasi antagonis dengan arah pembukaan double helix. Waktu DNA polimerase selesai mengakibatkan satu fragmen Okazaki, maka enzim harus ulang ke garpu replikasi untuk menyebabkan fragmen Okazaki yang baru. Untuk tiap tiap dimulainya fragmen Okazaki baru wajib ada utama spesifik untuk memulai replikasi.

Untuk kebutuhan ini, ada enzim spesifik yang dinamakan DNA primase. Enzim ini bermanfaat memicu utama di lagging strand. Utama yang dibentuk berupa segmen RNA pendek yang dikenali oleh DNA polimerase untuk memulai replikasi fragmen Okazaki yang baru. Pada eukariota, RNA pendek tersebut terdiri berasal dari 10 untai nukleotida dan dibuat di dalam interval 100-200 nukleotida.

Sintesis RNA utama oleh DNA primase. RNA utama diproduksi di lagging strand untuk memulai dibentuknya fragmen Okazaki

Proses Penggabungan Fragmen Okazaki

Fragmen Okazaki akan selesai dibentuk apabila ujung 5′ bertemu dengan ujing 3′ berasal dari RNA utama fragmen sebelumnya. Setelahnya maka lagging strand akan terdiri berasal dari RNA utama dan fragmen Okazaki. Dibutuhkan proses lanjutan berupa penghilangan RNA utama dan menyambungkan fragmen Okazaki jadi satu strand yang utuh.

Pembentukan dan penggabungan fragmen Okazaki
Proses ini ditunaikan oleh satu platform pemugaran DNA spesifik yang menghilangkan RNA utama dan digantikan dengan Dna. Sesudah tersebut, fragmen yang masih terputus akan disambungkan oleh DNA ligase (Reaksi di gambar di bawah).

Reaksi penggabungan fragmen DNA oleh DNA ligase
Kenapa harus dibutuhkan RNA utama? Kenapa tidak langsung DNA utama saja agar tidak kudu dihapus atau tidak harus utama serupa sekali? Ternyata hal ini perihal untuk kurangi jumlah eror atau kesalahan waktu replikasi Dna. Enzim DNA polimerase yang dapat memulai replikasi tanpa utama ternyata tidak efisien didalam proses koreksi Dna.

Dengan menggunakan RNA utama, tubuh secara otomatis menandakan area replikasi yang rentan eror agar diperlukan perlakuan spesifik supaya proses replikasi dapat berjalan seakurat bisa saja.

Protein Pembuka Struktur Double Helix

Struktur double helix menahan baik proses replikasi maupun translasi berasal dari gen. Gara-gara tersebut, maka sebelum proses replikasi, maka struktur ini harus dibuka terlebih dahulu. Sehingga DNA tetap dibuka, maka ada dua protein yang bereperan yaitu DNA helikase dan single-strand Dna-Binding protein.

DNA Helikase

DNA helikase pertama kali diisolasi sebagai enzim yang menghidrolisis ATP kala menempel ke DNA helai tunggal (Single strand). Dengan lakukan hidrolisis Atp, DNA helikase dapat menempel dan bergerak sepanjang DNA dan membelah struktur double helix DNA jadi dua single strand Dna.

Struktur dan mekanisme kerja DNA helikaseStruktur dan mekanisme kerja DNA helikase
Struktur dan prosedur kerja DNA helikaseberbeda dengan RNA polimerase yang semata-mata bisa terjadi berasal dari arah template 5′ ke 3′, DNA helikase dapat berlangsung dua arah. DNA helikase yang terjadi berasal dari 5′ ke 3′ pada lagging strand biasanya mengambil manfaat predominan didalam membelah struktur double helix Dna.

Single-Strand DNA-Binding (SSB) Protein

Struktur single-strand DNA-binding (SSB) proteinStruktur single-strand DNA-binding (SSB) protein
Struktur single-strand DNA-binding (SSB) protein

Protein yang kedua adalah single-strand Dna-Binding (Ssb) protein atau julukan lainnya helix-destabilizing protein. Protein ini bermanfaat menstabilkan sruktur single strand Dna. DNA yang sudah dibelah berasal dari struktur double helix dapat membentuk gulungan yang mengganggu proses replikasi. Dengan adanya Ssb, single-strand DNA dapat tetap lurus supaya memudahkan proses replikasi.

Fungsi single-strand DNA-binding (SSB) proteinFungsi single-strand DNA-binding (SSB) protein
Fungsi single-strand DNA-binding (SSB) protein

Struktur Sliding Ring Menahan DNA Polimerase menempel ke DNA Template Saat Proses Replikasi

Sebenarnya di dalam suasana bebas, DNA polimerase sekedar dapat mensintesis potongan pendek DNA sebelum lantas terlepas berasal dari DNA template. Kesamaan cii-ciri DNA polimerase untuk tanggal ini penting untuk amat mungkin DNA polimerase yang baru saja merampungkan fragmen Okazaki di lagging strand untuk tanggal dan menempel ke daerah yang baru.

Akan tapi pada leading strand, pasti pembawaan disosiasi ini tidak menguntungkan supaya diperlukan protein lain untuk menopang DNA polimerase tetap menempel ke DNA template. Protein lain ini berbentuk layaknya sliding clamp yang memegang DNA polimerase tetap menempel ke DNA tempate.

Struktur sliding clamp yang memegang DNA polimerase ke DNAStruktur sliding clamp yang memegang DNA polimerase ke DNA
Struktur sliding clamp yang memegang DNA polimerase ke Dna. (A) Struktur kristalografi sinar X protein sliding clamp bakteri E. coli. (B) Struktur 5 subunit clamp loader yang mengenggam strand Dna. Untuk melepas clamp loader ini memerlukan hidrolisi Atp. (C) Diagram skematik bagaimana clamp disusun untuk memegang DNA polimerase sepanjang enzim ini bergerak didalam proses replikasi Dna.Bagaimana cara sliding clamp ini dapat mendukung DNA polimerase tetap menempel tapi di sisi lain tidak menghalangi enzim ini terdisosiasi waktu replikasi telah selesai?

Situasi itu dapat dipenuhi gara-gara struktur protein tunjukkan bentuk cincin yang melingkupi DNA double helix. Satu sisi cincin menempel pada bagian belakang DNA polimerase dan sisi lainnya dapat bergeser secara bebas sewaktu DNA polimerase bergeser selagi replikasi.

Penyusunan klem di lebih kurang struktur DNA membutuhkan hidrolisis ATP oleh kompleks protein spesifik yaitu clamp loader. Protein ini menghidrolisi ATP supaya struktur kompleks ini dapat menempel ke batas utama dan template berasal dari Dna.

Protein-protein di Garpu Repliaksi Bekerja Sama Membentuk Mesin Replikasi

Apabila kami simak klarifikasi sejauh ini, tampak bahwa proses replikasi DNA memerlukan banyak protein. Sebenarnya protein ini saling bergabung di garpu replikasi dan menjalankan proses replikasi DNA secara efisien.

Garpu replikasi DNA aktifGarpu replikasi DNA aktif
Garpu replikasi DNA aktif. (A) Diagram membuktikan bagaimana susunan protein replikasi di garpu replikasi sementara replikasi DNA berjalan. (B) Gambar mikroskop elektron mesin replikasi berasal dari bakteriofag T4 (C) Interpretasi mikrograf berasal dari gambar mikroskop elekteron di atas.secara ringkas, kerja mesin replikasi ini terdiri berasal dari di bagian depan berasal dari garpu replikasi, enzim DNA helikase mengakses struktur heliks Dna.

Dua enzim polimerase bekerja bekerja di bagian garpu replikasi, satu di leading strand dan satu lagi di lagging strand. Di leading strand, DNA polimerase bekerja secara konstan sedangkan di lagging strand DNA polimerase bekerja dengan interval pendek menggunakan RNA utama yang dibuat oleh DNA primase. Kedekatan struktur protein-protein ini menaikkan efisiensi proses replikasi DNA dan dimungkinkan gara-gara struktur protein penunjang di lagging strand berasal dari garpu replikasi.

Susunan ini juga amat mungkin dapat menempelnya clamp DNA polimerase tiap tiap kali fragmen Okazaki disintesis. Clamp loader dan DNA polimerase di lagging strand dapat tetap berada di area meskipun telah tanggal berasal dari template. Mesin repliaksi ini membentuk grup atau unit protein besar dengan ukuran ≫106 dalton.

Di belakang, mesin replikasi DNA meninggalkan serangkaian fragmen Okazaki yang belum tersambung dan masih memiliki kandungan RNA utama. RNA lantas dibuang dan platform enzim pemugaran DNA mengganti RNA jadi DNA dan rangkaian yang belum tersambung diikat oleh enzim DNA ligase.

Sistem Strand-Directed Mismatch Repair Membuang Kesalahan Replikasi yang Lolos dari Mesin Replikasi

Meskipun sudah ada prosedur proofreading eksonuklease yang dilaksanakan DNA polimerase, kesalahan replikasi DNA masih bisa lolos berasal dari platform ini. Untuk mengenali dan memperbaiki kesalahan ini ada platform lain yaitu strand-directed mismatch repair.

Sehingga platform ini terjadi secara efektif, maka platform ini harus mengenali strand yang baru direplikasi berasal dari strand DNA template. Pada E.Coli, pada DNA terdapat proses metilasi berasal dari basa A tertentu yakni pada sekuens Gatc. Metilasi ini biasanya tidak terjadi selagi tersebut juga tetapi menanti strand yang baru direplikasi untuk selesai diinkorporasikan ke DNA double helix baru.

Oleh karena tersebut, strand DNA yang baru tidak memiliki pola metilasi di posisi A sekuens Gatc. Dengan demikian platform akan mengenali segmen DNA yang baru agar mengenali segmen DNA yang salah diduplikasi. Platform ini terdiri berasal dari 3 langkah yaitu mengenali kesalahan replikasi, mengeluarkan segmen DNA yang mempunyai kandungan kesalahan, dan membentuk DNA yang baru untuk memperbaiki kesalahan.

Pada manusia, platform ini juga berlaku. Pada individu yang mengalami defek pada platform ini punya predisposisi atau risiko untuk terkena kanker. Contohnya pada persoalan kanker kolorektal yaitu hereditary nonpolyposis colon cancer (Hnpcc) dimana apabila berlangsung mutasi pada satu gen lain yang fungsional akan mengganggu proses proofreading supaya mutasi akan berakumulasi dan munculah kanker.

Pada eukariota, prosedur sosialisasi DNA yang baru direplikasi tidak tergantung metilasi Dna. Misalnya pada ragi dan Drosophila, pada kedua organisme ini DNA tidak dimetilasi. Strand DNA yang baru direplikasi biasanya terdapat nick (Single DNA break) yang merupakan petanda strand yang baru direplikasi.

Model strand-directed mismatch repair pada euakriotaModel strand-directed mismatch repair pada euakriota
Jenis strand-directed mismatch repair pada euakriota. (A) Skema prosedur pemugaran (B) Struktur protein Muts yang mengikat ke mismatch DNA

DNA Topoisomerase Mencegah Kekusutan DNA Saat Replikasi

Ketika replikasi tetap berjalan, berlangsung kasus gara-gara adanya tahanan puntiran berasal dari DNA implikasi kerja DNA helikase. Layaknya selagi kami mengakses puntiran tambang, semakin dibuka semakin kuat tahanan yang dirasakan. Begitu pula dengan untaian Dna.

Tahanan puntiran yang berjalan sementara replikasi Dnauntuk menanggulangi kasus ini, terdapat protein yang dinamakan DNA topoisomerase. Enzim ini merupakan nuklease reversibel yang memecah ikatan fosfodiester berasal dari DNA dan lantas menyambungkan lagi ikatan itu. Terdapat dua type topoisomerase yaitu topoisomerase I dan topoisomerase Ii.

Topoisomerase I

Topoisomerase I akan membawa dampak putusnya selagi satu strand Dna. Putusnya satu bagian berasal dari DNA ini akan amat mungkin rotasi berasal dari untaian Dna. Hal ini akan kurangi gaya puntiran supaya replikasi DNA dapat dilanjutkan.

Sebab ikatan kovalen berasal dari protein topoisomerase dengan fosfat DNA menjaga taraf daya yang ada, maka penyambungan ulang strand DNA terjadi cepat dan tidak membutuhkan daya tambahan.

Topoisomerase II

Style kedua berasal dari topoisomerase adalah topoisomerase Ii. Enzim ini membentuk ikatan kovalen pada kedua strand DNA pada kala yang seiring. Akibatnya, DNA akan terputus secara total secara kala. Enzim ini diaktifkan di kromosom dimana terdapat dua double helix saling bersilangan membentuk simpul.

Pas topoisomerase II bertemu dua DNA yang bersilangan maka dengan menghidrolisis ATP berlangsung sebagai berikut: 1) memotong satu double helix secara reversibel membentuk “Gerbang” ; 2) menyilangkan double helix kedua melewati gerbang yang dibentuk sebelumnya; 3) menyambung lagi DNA yang sebelumnya diputus.
Dengan kerja topoisomerase II ini, akan menahan bisa saja terjadinya kekusutan pada bentang DNA khususnya selagi replikasi. Sehingga lebih paham perihal kerja topoisomerase II ini dapat dilihat di gambar di bawah ini:Mekanisme kerja topoisomerase I

Mekanisme kerja topoisomerase I
Mekanisme kerja topoisomerase I
Untaian DNA yang bertemaliUntaian DNA yang bertemali
Untaian DNA yang bertemali membentuk simpul.

Mekanisme kerja topoisomerase II

Kesamaan Proses Replikasi DNA pada Eukariota dan Bakteri

Kabar terkait proses replikasi ini banyak berasal berasal dari penelitian tentang replikasi DNA di bakteri dan bakteriofag. Pada dasarnya terdapat banyak kecenderungan antara proses replikasi bakteri dengan eukariota. Semata-mata saja, komponen protein pada prosedur replikasi eukariota lebih banyak. Sebagai contoh, protein SSB pada eukariota terdiri berasal dari tiga subunit sedangkan pada bakteri hanyalah satu unit.

Begitu pula dengan DNA primase eukariota yang terdiri berasal dari enzim multisubunit pada eukariota. Kompleks protein ini terdiri berasal dari DNA polimerase yang dinamakan DNA polimerase α-Primase. Kompleks protein ini memulai tiap-tiap fragmen Okazagi pada lagging strand dengan NRA dan sesudah itu meneruskan RNA utama dengan segmen pendek Dna. Pada titik ini, dua enzim polimerase replikatif eukariota primer, δ dan ε berkunjung dan melengkapi tiap tiap segmen Okazaki dan secara simultan juga memperpanjang leading strand.

Kompleksitas lainnya pada repliaksi DNA adalah adanya struktur nukleosom. Kromosom eukariota tersusun secara struktural berulang di dalam bentuk nukleosom. Pada dasarnya struktur ini dapat memperlambat kerja replikasi pada eukariota 10 kali lebih lambat. Tak hanya tersebut, nukleosom tersusun sepanjang interval 100-200 nukleotida supaya panjang fragmen Okazaki pada eukariota lebih pendek yaitu 100-200 nukleotida dibandingkan 1000-2000 nukleotida pada bakteri.

Kesimpulan

Replikasi DNA merupakan proses penting didalam perkembangbiakan sel. Proses ini memerlukan kerja mirip banyak protein terhitung DNA polimerase dan DNA primase untuk katalisasi polimerase nukleotida, DNA helikase dan protein SSB untuk mengakses double helix, DNA ligase dan enzim yang mendegradasi RNA utama untuk menyambung fragmen di lagging strand, DNA

topoisomerase untuk kurangi puntiran DNA dan menahan kekusutan DNA waktu replikasi. Banyak protein ini saling berasosiasi di kira-kira garpu replikasi membentuk mesin replikasi dimana kegiatan dan mobilitas berasal dari protein-protein itu saling terkoordinasi.

PENUTUP

Semoga pembahsan di atas bisa di mengerti,jika ada kekurangan mohon maaf sebesar besar nya,
Sekian yang admin sampaikan,terima kasih

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.