web hit counter Kakak-Adik Dijerat KPK, Terbaru Bupati Langkat dan Kakaknya - idhealt.com

Kakak-Adik Dijerat KPK, Terbaru Bupati Langkat dan Kakaknya

idhealt.com – Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin berkongkalikong dengan kakaknya di dalam masalah suap project infrastruktur di wilayah Langkat. Masalah ini lagi-lagi menaikkan daftar panjang korupsi yang dilaksanakan oleh kakak-adik.

Sebagaimana diketahui, Terbit Planning Perangin Angin formal ditetapkan sebagai tersangka oleh Kpk. Terbit Planning diduga terima suap berasal dari project infrastruktur di wilayah Langkat.

“Sesudah pengumpulan beraneka info disertai pengambilan keterangan tentang dugaan tindak korupsi dimaksud, KPK lantas jalankan penyelidikan dan ditemukan adanya bukti permulaan bukti yang memadai.

Maka KPK menaikkan standing perkara ke termin penyidikan,” kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di dalam jumpa pers, Kamis (20/1/2022).

Kepala Desa Balai Kasih, Iskandar Pa, juga ditetapkan sebagai tersangka di dalam persoalan korupsi Bupati Langkat Terbit Planning Perangin Angin.

Iskandar, yang merupakan kakak kandung Terbit Rencana, diduga mengatur paket project infrastruktur di dalam persoalan dugaan suap ini.

“Di dalam lakukan pengaturan ini, Tersangka TRP memerintahkan Sujarno selaku Plt Kadis PUPR Kabupaten Langkat dan Suhardi selaku Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa untuk berkoordinasi aktif dengan Iskandar sebagai representasi Terbit Rencana berkenaan dengan pemilihan pihak relasi mana saja yang akan ditunjuk sebagai pemenang paket pekerjaan project di Dinas PUPR dan Dinas Pendidikan,” ujar Gufron.

Aksi korupsi kakak-adik yang dikerjakan oleh Terbit Planning dan Iskandar bukan yang pertama. Sebelumnya, KPK juga pernah mengusut masalah korupsi yang menjerat kakak-beradik. Dirangkum detikcom, Kamis (20/1/2021), berikut ini daftarnya:

1. Khamami-Taufik

Masalah korupsi yang menjerat kakak-adik salah satunya adalah masalah Khamami dan Taufik. Khamami merupakan Bupati Mesuji.

Dia disangka KPK terima suap berasal dari kontraktor yang menggarap project infrastruktur di wilayahnya. Sedangkan adiknya, Taufik, disebut KPK sebagai mediator duit haram itu.

“Diduga fee project diserahkan kepada TH (Taufik Hidayat), adik Bupati Mesuji dan digunakan untuk kepentingan bupati,” ucap Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2019).

Tidak cuman Khamami dan Taufik, KPK menetapkan tiga tersangka lainnya, yaitu Wawan Suhendra sebagai Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Mesuji, Sibron Azis sebagai pemilik PT Jasa Promix Nusantara dan PT Secilia Putri, dan juga Kardinal selaku swasta. Khamami diduga terima Rp 1,28 miliar berasal dari Sibron.

Uang itu diduga merupakan fee pembangunan project infrastruktur di Mesuji. KPK menduga uang itu bukanlah pertolongan pertama. KPK sudah mendeteksi dukungan sebelumnya sebesar Rp 200 juta dan Rp 100 juta.

2. Billy Sindoro dan Eddy Sindoro

Kali kedua Billy Sindoro berurusan dengan Kpk. Kira-kira 10 tahun lalu, Billy pernah diusut dengan dugaan memberi tambahan suap ke M Iqbal yang saat itu menjabat di Komisi Pengawas Persaingan Bisnis (Kppu).

Billy dijatuhi vonis 3 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan dikarenakan terbukti bersalah memberi suap Rp 500 juta pada M Iqbal tentang masalah hak siar Perserikatan Inggris.

Waktu berlalu sampai selanjutnya Billy bebas. Pas itu, adik Billy, Eddy Sindoro, yang gantian dijerat KPK.

Pada 2016, Eddy ditetapkan KPK sebagai tersangka. Jeratan untuk Eddy Sindoro itu berawal berasal dari operasi tangkap tangan (Ott) yang dikerjakan KPK pada Doddy Aryanto Supeno dan Edy Nasution.

Doddy saat itu hanyalah disebut sebagai seorang swasta, sedangkan Edy Nasution adalah panitera sekretaris PN Jakarta Pusat saat itu.

Baik Doddy maupun Edy Nasution udah divonis dan juga sanksi untuk keduanya telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Doddy merintis sanksi 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 6 bulan kurungan, sedangkan Edy Nasution harus meringkuk di penjara selama 8 tahun dan membayar denda Rp 300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Eddy Sindoro sempat kabur sampai ke 4 negara semenjak ditetapkan sebagai tersangka. Dia baru-baru ini menyerahkan diri ke KPK dengan alasan ingin perkaranya langsung tuntas.

Sedangkan Billy yang udah bebas lantas dijerat KPK lagi. Kali ini, dia diduga jadi pemberi suap kepada Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin berkenaan perizinan project Meikarta. Perkara ini pun masih bergulir di taraf penyidikan.

Simak Video ‘Konstruksi Perkara Suap yang Menjerat Bupati Langkat’:

3. Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana Chasan alias Wawan

Ratu Atut Chosiyah dijerat KPK saat menjabat sebagai Gubernur Banten. Atut pun udah dihukum untuk 2 perkara yaitu masalah suap pada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (Mk) Akil Mochtar dan perkara korupsi pengadaan alat kesegaran di Banten.

Untuk perkara suap ke Akil, Atut divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 5 bulan kurungan. Vonis itu diperberat di taraf kasasi jadi 7 tahun penjara.

Sedangkan untuk perkara korupsi pengadaan alat kebugaran, Atut divonis 5 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sedangkan adik Atut yang biasa dipanggil Wawan juga dijerat beri tambahan suap ke Akil. Di taraf pertama, Wawan divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan yang lantas diperberat jadi 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan di taraf kasasi.

Baik Atut maupun Wawan tengah menekuni hukumannya dikarenakan udah berkekuatan tetap atau inkrah. Tetapi untuk Wawan, KPK masih mengusut satu perkara lain yaitu berkenaan tindak pidana pencucian uang (Tppu).

4. Ahmad Hidayat Mus dan Zainal Mus

Gubernur Maluku Utara (Malut) terpilih Ahmad Hidayat Mus ditetapkan KPK sebagai tersangka. Ahmad dijerat bersama dengan-mirip dengan adiknya, Zainal Mus.

Keduanya diduga jalankan korupsi dengan modus pengadaan project fiktif yaitu pembebasan huma Bandara Bobong pada APBD Kabupaten Kepulauan Sula 2009.

Saat itu, Ahmad berstatus sebagai Bupati Kabupaten Kepulauan Sula 2005-2010, sedangkan Zainal selaku Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sula 2009-2014.

“Dugaan kerugian negara berdasarkan perhitungan dan koordinasi dengan BPK sebesar Rp 3,4 miliar disesuaikan jumlah pencairan Sp2d kas area Kabupaten Kepulauan Sula,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat itu.

5. Anggoro Widjojo dan Anggodo Widjojo

Perkara yang melatari kakak-beradik ini lumayan menyita perhatian gara-gara sebabkan munculnya istilah Cicak Versus Buaya di dalam konflik KPK Versus Polri tahun 2009.

Awalnya Anggoro menyuap 4 anggota Komisi IV DPR yaitu Azwar Chesputra, Al-Amin Nur Nasution, Hilman Indra, dan Fachri Andi Lelua.

Suap itu diberikan supaya Anggoro memenangkan project platform komunikasi radio terpadu (Skrt) pada 2006-2007 di Departemen Kehutanan senilai Rp 180 miliar. Didalam prosesnya Anggoro sempat buron pada Juli 2009 dan baru tertangkap 5 tahun lantas.

Singkat cerita, Anggoro divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta. Lalu bagaimana dengan Anggodo?

Saat KPK mengusut perkara Anggoro, Anggodo melaporkan dua pimpinan KPK saat itu Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah kepada Polri dengan tuduhan laksanakan pemerasan. Laporan itu bertujuan menahan proses penyidikan di masalah suap yang melibatkan Anggoro.

Bibit dan Chandra sempat dijadikan tersangka oleh kepolisian yang lantas meruncingkan konflik Cicak Lawan Buaya itu. Pada selanjutnya, Anggodo dijerat KPK udah merintangi penyidikan KPK pada Anggoro.

Di taraf kasasi, Anggodo divonis 10 tahun penjara dan denda Rp 250 juta pada tahun 2011.
Dia bebas pada 2015 dan meninggal dunia pada September 2018.

6. Andi Mallarangeng dan Choel Mallarangeng

Pusaran korupsi project Hambalang yang jadi dasar KPK menjerat kakak-adik Mallarangeng itu. Keduanya terbukti ikut mengarahkan proses pengadaan di project Hambalang.

Andi divonis sanksi 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta pada 2014. Dia sesudah itu bebas pada Juli 2017. Sedangkan Choel divonis 3,5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta pada 6 Juli 2017.

Tetapi, MA menyunat sanksi Choel jadi 3 tahun penjara usai Pk-Nya dikabulkan pada 19 Maret 2019.

Baca Juga :

Penutup

Terima kasih sudah membaca artikel ini hingga selesai. Jangan lupa untuk selalu membagikan web site ini kepada teman kalian semua dan selalu tetap konsisten  mengunjungi idhealt.com.

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.