web hit counter Apa Itu Suspend, Trading Halt, dan Auto Reject pada Investasi Saham? - idhealt.com

Apa Itu Suspend, Trading Halt, dan Auto Reject pada Investasi Saham?

idhealt.com – Suspend, trading halt, dan auto reject adalah istilah yang sering disebutkan di dunia pasar modal. Ketiga merupakan platform yang dibentuk oleh Bursa Dampak Indonesia (BEI) supaya saham tertentu atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dengan tidak terkendali, baik itu ketika menguat maupun melemah. Klarifikasi lebih lanjut tentang suspend, halting, dan auto reject dapat Kamu simak pada artilel berikut.

Pengertian Suspend

Suspend adalah tindakan yang dikerjakan oleh otoritas bursa, yakni menghentikan saat perdagangan saham. Suspensi atau suspend adalah hegemoni yang ditunaikan oleh Bursa Dampak Indonesia (BEI) pada perdagangan saham untuk mendorong perdagangan pengaruh terselenggara dengan teratur, wajar, dan efisien.

BEI didalam Ketetapan Nomor Iii-G tentang Suspensi dan Pencabutan Persetujuan Keanggotaan Bursa menjelaskan, suspensi atau suspen adalah embargo selagi laksanakan kegiatan perdagangan di bursa bagi anggota berusa pengaruh dan atau personil yang diberi kuasa atau bertanggung jawab untuk laksanakan perdagangan pengaruh.

BACA JUGA :

Biasanya, perdagangan saham suatu emiten atau corporate yang sahamnya tercatat di bursa disebabkan gara-gara permintaan berasal dari anggota bursa yang bersangkutan, sebab hukuman yang dikenakan oleh bursa, dan juga gara-gara adanya perintah berasal dari otoritas keuangan untuk jalankan suspensi.

Hukuman yang membawa dampak suspensi perdagangan saham biasanya disebabkan sebab corporate atau anggota bursa tidak lagi miliki wahana dan prasarana perangkat Remote Trading Anggota Bursa Dampak, modal sendiri atau ekuitas bisnis negatif berdasarkan laporan keuangan tahun, sedang tahun, atau kuartalan, dan juga laporan keuangan th memperoleh opini adverse atau disclaimer.

Pengertian Halting

Halting atau trading halt adalah penghentinan perdagangan saham di bursa secara total selama 30 menit gara-gara Indeks Harga Saham Gaungan (IHSG) turun di dalam batas tertentu.

Berdasarkan peraturan yang saat ini berlaku, trading halt diberlakukan bila IHSG mengalami koreksi sampai 5 prosen didalam satu hari perdagangan.

Pada tahun 2020 lalu, BEI sempat sebagian kali jalankan trading halt gara-gara sentimen negatif yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Pengertian Auto Reject

BEI lewat laman resminya, idx.co.id menjelaskan, auto reject adalah batasan maksimum atau minimum kenaikan dan penurunan harga saham di dalam satu hari perdagangan bursa.

Prosedur auto rejection ini diberlakukan untuk melindungi investor berasal dari fluktuasi harga saham yang terlampau tinggi.

Auto rejection atau auto reject saham pun dibagi jadi dua, yakni auto reject atas (Ara) dan auto reject bawah (Arb). Penjelasannya sebagai berikut:

Auto Reject Atas (ARA)

Auto Reject Atas atau ARA adalah batasan maksimum kenaikan harga suatu saham didalam satu hari. Batas kenaikan harga itu dinyatakan di dalam kandungan. Platform auto rejection sedniri sudah diatur didalam Jakarta Automated Trading System (Jats) Next-G. BEI udah menentukan batasan ARA disesuaikan dengan Aturan Direksi Nomor Kep-00023/Bei/03-2020.

Besaran ARA tergantung pada harga acuan saham yang udah dimasukkan anggota bursa di dalam platform HATS Next-G itu.

Untuk harga acuan Rp 50 hingga dengan Rp 200, ARA berlangsung bila kenaikan harga saham di atas 35 prosen, untuk harga Rp 200 hingga dengan Rp 5.000 sebesar 25 prosen, dan untuk harga di atas Rp 5.000 20%.

Sebagai contoh, harga saham PT Bukalapak.Com Tbk (Buka) yang melesat sampai 24,71% berasal dari Rp 850 mennjadi Rp 1.060 per saham pada perdagangan hari pertama, Jumat (6/8/2021) lalu.

Transaksi untuk saham Bukalapak pada perdagangan hari pertama sebanyak 4.293 kali dengan nilai transaksi yang diperoleh sebesar Rp 555,59 miliar berasal dari 524 juta lembar saham yang diperdagangkan.

Auto Reject Bawah (ARB)

Auto Reject Bawah atau ARB adalah kebalikan berasal dari Ara, yakni batasan maksimum penurunan harga saham didalam sehari. Penurunan harga saham yang tidak terkendali bila berjalan tidak ada order di antrial beli (Bid) saham, selagi aksi jual berjalan. Ketetapan batas ARB mulanya adalah sebesar 20 % sampai 35 %.

Tapi, pandemi memicu koreksi harga saham besar-besaran dan BEI mengubah keputusan ARB jadi 10 % sebelum selanjutnya jadi 7%. Ketetapan ARB disesuaikan denganKeputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 yakni Rp 50 atau kurang dari 7 persen untuk harga acuan Rp 50 sampai dengan Rp 200 dan untuk harga di atas Rp 200 sebesar 7 persen.

Perlu diketahui, khusus saham IPO atau saham yang baru tercatat pertama kali di papan bursa, maka batasan yang berlaku sebesar dua kali dari persentase auto rejection.

Selain itu, catata bagi investor, catatan pembelian maksimal saham sebanyak 50.000 lot atau
5% dari jumlah efek tercatat (mana yang lebih kecil). Bila melampaui jumlah tersebut, maka akan terkena auto rejection.

 

Akhir Kata

Semoga info diatas bisa membantu dan bermanfaat bagi kalian semua yang sudah membacanya. Terima kasih sudah membaca artikel ini hingga selesai.

Dan jangan lupa untuk tetap konsisten mengunjungi website ini dan jangan lupa bagikan website ini kepada kerabat, sobat, teman kalian dan ikuti terus idhealt.com supaya tidak ketinggalan info terbaru lainnya.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.